T H E K

E pada thek dibaca seperti e pada kakek.

Tulisan ini sangat sensitif. Saking sensitifnya maka harus dibuka. Kesamaan peristiwa dengan yang dialami seseorang, adalah sebuah kesengajaan. Nama orang dan instansi sengaja saya hilangkan. Supaya yang saya tunjuk tidak makin malu. Itu aja. Banyak wartawan tak suka membahas topik ini. Dianggap sangat pribadi. Tabu untuk dibicarakan. Padahal tabu diambil. Buat wartawan yang lebay doyan suap, tulisan ini pasti bikin emosi tinggi.

Thek adalah diksi di Surabaya untuk menunjuk amplop. Suap. Dari asal kata apa, bukan yang akan saya bicarakan. Di Surabaya thek. Di Jakarta jale. Di Palu balacai.

Awal sebagai kontributor RCTI di Sidoarjo di kisaran 2004-2005, saya belum paham tentang amplop. Biasanya usai meliput kegiatan pemkab, selalu ada kawan jurnalis yang mendekati saya. Dia memberi sejumlah uang. Karena belum paham, saya menerima.

Saya pernah menerima uang hingga Rp500.000,-. Di tahun itu, jumlah segitu banyak. Uang itu saya dapat setelah meliput sebuah agenda pemkab. Waktu itu gaji sudah habis. Cicilan motor masih harus dibayar. Maka uang itu saya terima untuk bayar motor.

Dalam kesempatan lain saya juga pernah dapat uang yang jumlahnya cukup besar. Saya lupa nominalnya. Tapi bisa untuk untuk tambahan membeli hape baru. Mungkin karena belinya pakai uang panas, hape itu tidak berumur. Dalam sebuah liputan di Gelora Pancasila, hape baru saya saya hilang. Dicuri.

Waktu itu saya belum konsisten untuk urusan thek. Dalam sebuah liputan korupsi pimpinan DPRD Sidoarjo, Jaksa menahan Imron Syukur dan Agus Sutego karena MA menolak permohonan kasasinya keduanya. Keduanya digiring ke tahanan saat dirawat di RSUD Sidoarjo. Landasan jaksa adalah hasil pemeriksaan tim dokter Kejaksaan Negeri Sidoarjo. Esoknya, pengacara para tersangka datang dari Jakarta ke Sidoarjo. Menyampaikan keberatan atas penahanan kedua kliennya.

Usai menghadap jaksa, pengacara lalu melayani wawancara dengan para jurnalis. Setelah wawancara, dia memanggil saya ke mobilnya. Yang menyampaikan seorang kawan jurnalis, “Ndre kamu dipanggil pak itu ke mobilnya.” Kata teman saya.

Dengan perasaan curiga saya beranikan diri masuk ke dalam mobilnya. Di dalam, dia memberikan setumpuk uang 50 ribuan kepada saya, “Ini pak sebagai ucapan terima kasih. Tolong menulisnya bisa yang menguntungkan klien saya,” kira-kira begitu kata pengacara itu.

Entah mengapa, setumpuk uang itu malah membuat saya ketakutan, “Wah enggak, Pak. Maaf saya nggak mau nerima,” lalu buru-buru saya keluar dari mobilnya.

Saya gabung dengan AJI di 2007. Saya semakin paham untuk menolak thek. Thek bukan hanya bisa memengaruhi independensi jurnalis. Juga bikin kecanduan. Pada taraf ini, sulit dihentikan. Rukyah juga tak bakal mampu menghentikan.

Kalau sudah begitu, narasumber akan jadi sapi perahan atau ATM. Cukup mengarang-ngarang berita, wawancara sekadarnya, selesai wawancara dapat uang. Mudah kan?

Seorang narasumber di Surabaya sempat dijadikan ATM. Tetunya oleh sebagian jurnalis. Sebagian. Ingat ya! Sebagian. Meski sebagian bisa merusak pandangan terhadap profesi ini. Masyarakat akan semakin tidak percaya pada karya jurnalis.

Orang ini terkenal setelah luapan lumpur Lapindo tak bisa dihentikan. Lewat teori aliran fluida milik Daniel Bernoulli, narasumber ini mencoba menyampaikan idenya.

Usulan ini tidak dianggap oleh siapapun. Yang menganggap hanya jurnalis-jurnalis yang haus thek. Mengapa? Karena tiap kali selesai liputan, dia selalu memberi “bekal” kepada semua yang datang. Hingga pernah satu kali, saya merasa malu pada kelakuan teman-teman saya.

Untuk sekadar memenuhi kebutuhan liputan, dia dikermuni oleh banyak jurnalis. Handycam mengarah ke dia. Penutup lensa dibuka. LCD dibuka. Tapi kamera off. Alias mati. Tidak dinyalakan.

Saya tanya kenapa tidak dinyalakan, “Yaaaa dia kan nggak tau kalau ini mati. Yang dia tau kan LCDnya terbuka. Pokoknya yang penting thek-nya,” begitu dia menjawab dengan enteng.

Setelah itu, ada seorang jurnalis senior dari koran lokal terkenal di Surabaya. Dia meminta saya menulis nama saya di secarik kertas. Sepintas seperti daftar hadir. Ini modus operandi meminta thek. Daftar ini diserahkan ke narasumber. Selanjutnya semua nama yang tertera akan diberi thek. Karena paham tujuannya, saya menolak menuliskan nama, “Wah kamu ini disuruh kok nggak mau!” hardiknya.

“Terus kalau saya nggak mau nulis, Bapak mau apa? Nggak usah maksa saya.” Kalau urusan bentak-bentakan, saya jago. Kalau urusan berkelahi, saya penakut.

Saya sempat bentak-bentak petugas penerima tamu. Gara-gara tidak mau tanda tangan setumpuk daftar hadir. Kejadiannya di jumpa pers di sebuah instansi pemerintah. Acaranya tentang penghapusan denda pajak kendaraan bermotor. Di meja penerima tamu, disediakan dafatar hadir. Kalau satu tak masalah. Ini bertumpuk-tumpuk.

“Ngapain saya harus tanda tangan sebanyak itu?”

“Perintah atasan saya seperti itu, Mas”

“Cukup satu. Yang lainnya saya nggak mau tanda tangan.”

“Lho mas ini gimana sih? Ini aturannya gitu. Sudah tanda tangan aja”

“Kalau saya nggak mau ikut aturan kenapa? Saya nggak boleh ikut jumpa pers? Nggak masalah.”

Saya serius ngeloyor pergi. Padahal liputan ini penugasan. Saya bisa jelaskan bahwa saya dilarang hadir karena menolak tanda tangan banyak berkas. Tapi si penerima tamu mengalah. Dia mengijinkan saya meliput. Selesai? Belum.

Dia lalu memberi goodie bag sebelum saya masuk ke ruangan. Di depan dia saya cek isinya. Pers release, oke. brosur, oke. Terakhir… amplop. Saya ambil amplopnya saya tunjukkan ke dia, “Ini apa bu? Isinya apa?”

“Lho mas itu jangan dikeluarkan!”

“Amplopnya kan tertutup. Saya harus tahu ini isinya apa. Isinya uang ya?”

“Dimasukkan saja, Mas! Nggak usah dikeluarkan gitu!”

“Bu, kalau ini uang, saya kembalikan. Saya nggak butuh. Kalau bisa semua wartawan nggak usah dikasih yang beginian. Bikin kecanduan”

Tidak cuma si ibu yang terbelalak. Belasan wartawan yang nunggu giiran tanda tangan daftar hadir juga kaget. Bahkan ada yang bilang, “Andre nggatheli (bangsat).” Nggak ngefek mau ngomong apa.

Pernah juga terjadi waktu saya ikut pers gathering salah satu BUMD. Selagi mengambil gambar, seorang staf humas mendekati saya. Dia senyum agak dipaksa. Supaya terkesan ramah, “Mas, untuk CNN apa mau ambil amplopnya?”

Enteng saja jawabnya, “Untuk CNN tidak usah, Mas. Dan sebaiknya untuk semua jurnalis yang datang di sini tidak perlu diberi amplop. Dengan memberi amplop, mas akan merendahkan instansi mas sendiri. Karena ternyata hanya segitu saja harga diri mas dan instansi mas. Baik mas, instansi mas, dan atasan mas bisa saja dijadikan “ATM berjalan” oleh yang mas beri. Kalau mereka lagi nggak punya uang, ya tinggal ke mas aja. Wawancara pejabat di situ pasti pulangnya dikasih uang. Maka tidak perlu memberi amplop.” begitu kata saya pada dia.

Saya setuju dengan kakak saya, Insany Syahbarwaty. Dia adalah senior saya di RCTI dulu, juga senior sekaligus guru etik saya di AJI sampai sekarang. Narasumber harus paham posisi kita sebagai jurnalis yang tidak boleh menerima suap. Saya setuju untuk menyampaikan secara gamblang apa yang bisa terjadi baik pada narasumber maupun pada jurnalis jika menerima suap.

Kalau narasumber tersinggung dan sakit hati karena pemberiannya ditolak, itu urusan dia. Panase srengene dipek wong akeh, panase ati dipek dewe. (Panasnya matahari dirasakan orang banyak, panasnya hati dirasakan sendiri). Biar saja terpuruk pada sakit hati yang tak beralasan.

Tapi menyuap jurnalis, adalah urusan publik. Jurnalis berkarya untuk publik melalui media tempatnya bekerja. Upaya mempengaruhi jurnalis agar mengikuti kehendak narasumber, adalah membelenggu kemerdekaan publik. Publik dipaksa mengikuti alur keinginan narasumber. Maka pemberian thek harus ditolak! Dilawan! Kalau tidak suka diketahui kebusukanmu, bekerjalah dengan benar. Bukan menyuap wartawan.

Memberi pemahaman pada sesama jurnalis bahwa thek bahaya, tidak mudah. Sulit. Jurnalis menganggap selama tidak meminta, sah. Selama narsum memberi secara sukarela, sah. Tidak sesederhana itu, Ferguso. Karya jurnalistik yang dibuat dengan etik yang tercela, bisa merusak masyarakat. Warga disuguhi berita yang dibuat secara asal-asalan. Memenuhi selera narasumber. Giving the blow job. Simply the same.

Bagi-bagi thek kepada jurnalis sebenarnya bisa ditebak dari agenda yang diadakan. Hal-hal berbau seremonial, launching produk, pengungkapan keberhasilan, biasanya happy ending. Diakhiri dengan bagi-bagi thek.

Pihak yang tidak memahami jurnalistik ingin potong kompas. Memberi uang pada jurnalis supaya acaranya diberitakan. Padahal tim liputan belum tentu punya kuasa menaikkan berita. Garis komando di redaksi, belum tentu membuka kuasa penuh bagi tim liputan. Keputusan menaikkan berita bukan di tangan peliput. Ada mekanisme tertentu yang memutuskan berita naik atau tidak. Bahkan bisa melalui rapat redaksi.

Jengah dengan kelakuan jurnalis menerima thek, kampanye dilakukan ke masyarakat. Literasi media. Tentang bagaimana media bekerja. Tentang etika jurnalistik. Tentang bagaimana masyarakat berkomunikasi dengan jurnalis dan sebaliknya. It’s hard, but doable. Tidak mudah, tapi bisa dilakukan.

Boleh saja para wartawan tidak mengaku menerima thek. Nggak dosa kok menerima thek. Cuma menjijikan. Saya dulu sempat jadi wartawan yang menjijikkan. Tapi kan saya tidak mau berada di kubangan itu terus. Tolak amplop, tolak juga isinya!

#MatiKauJurnalistik kata para pemburu thek

One thought on “T H E K

Leave a comment