Reaction Film Kuasa Gelap

Saya sudah merencanakan nonton film Kuasa Gelap ketika rencana rilis film ini muncul di berita televisi dan viral di berbagai media sosial. Setelah gajian, saya mengajak istri untuk nonton film ini tepat di tanggal 3 Oktober 2024 saat film ini perdana tayang. Meski bioskop tidak sampai separuh terisi, itu tidak mempengarui semangat saya nonton. Paling yang ketir-ketir produsernya. Saya sempat melihat ada beberapa penonton yang … Continue reading Reaction Film Kuasa Gelap

Pa, Besok Aku Ikut Demo

“Kamu pakek sepatu apa?” “Ya sepatuku.” “Iyaa, sepatu yang mana? Sepatumu kan ada beberapa. Kamu pakek sepatu yang mana?” “Yang coklat. Kenapa se, Pa? Kok sampek ngurusi sepatuku?” “Yang coklat itu yang wedges kan?” “Iyaa. Kenapa se Pa? Aku kan cuma mau bilang kalok ikut demo. Kok Papa nanyain sepatuku?” “Kamu pakek itu ya kesleo, Nak.” “Maksudnya?” “Kamu kalok demo itu pikirkan yang terburuk. Kamu … Continue reading Pa, Besok Aku Ikut Demo

Jangan Minum Biuret!

Anak saya sedang mengerjakan tugas KIR membuat tempe. Ada tiga wadah dengan berbagai takaran ragi yang berbeda. Setelah melalui serangkaian pengolahan kedelai dan pembubuhan ragi, ketiga paket tempe disimpan. Selang beberapa waktu tiga bungkusan tempe itu diambil untuk dites. Malam itu dia mendapat kiriman dari teman satu tim. Yaitu alat-alat dan bahan kimia untuk menguji kandungan protein tiap paket tempe. Hampir di waktu yang sama … Continue reading Jangan Minum Biuret!

Sopran, Alto, Tenor, Bass, Tius

Tius selalu minta duduk di dekat paduan suara. Hampir semua lagu dia hafal. Mulai dari ordinarium sampai lagu-lagu Gereja lainnya. Dan Tius selalu ikut bernyanyi bersama koor dari luar tempat koor. Tepatnya di bangku umat di samping paduan suara. Supaya kebagian tempat duduk, kedua orang tuanya selalu mempersiapkan Tius seawal mungkin biar kebagian tempat duduk. Karena tempat duduk di dekat koor selalu jadi rebutan umat. … Continue reading Sopran, Alto, Tenor, Bass, Tius

Rosario Tidur

Pio dan anaknya, Frans. Imaji ini adalah ilustrasi yang digambar menggunakan teknologi kecerdasan buatan Frans tertidur puas bersandar pada lengan kiri ayahnya. Saking pulasnya, meski sambil duduk di kursi plastik yang telah kusam itu, mulutnya sampai ternganga. Pio, ayahnya, sejenak melirik ke anaknya yang tertidur ketika doa Salam Maria diucapkan para warga. Meski hanya 10 orang tua yang hadir, tapi kebersamaan mereka dalam devosi itu … Continue reading Rosario Tidur

Es Buah Paskah

Usai misa Paskah pagi di gereja, kami bergegas menuju rumah karena ada tamu yang akan bertandang. Tapi tujuan pertama kami adalah mengambil pesanan makanan kami di sebuah restoran kecil dekat rumah. Untung saja aku sudah memesan jauh-jauh hari supaya tidak mengantre karena yang pesan dadakan tak terkira banyaknya. Sampai di rumah, kami bersegera menyiapkan hidangan. Nasi diletakkan di dalam bakul anyaman dengan dialasi daun pisang. … Continue reading Es Buah Paskah

Kawan Baru

Aku tahunya dari cerita mereka, kawan baruku. Yang bisa kuingat adalah beberapa orang mengadang dan mengepung lalu memukuliku. Aku tidak sempat berputar dengan sepeda motorku sehingga tak bisa mengelak bahkan menyelamatkan diri. Setelah itu semua berangsur redup lalu hitam. Begini cerita temanku yang menemukan tubuhku tergeletak babak belur pingsan di pinggir jalan. Bajuku koyak tak karuan. Tak ada identitas apapun pada diriku yang bisa dia … Continue reading Kawan Baru

Maaf, Saya Menangis Liputan Duka Korban Kanjuruhan

Mengejar wawancara dengan presiden sekaligus mengambil gambar dia saat kunjungan, tidak susah. Paling-paling harus berdesakan degan sesama jurnalis dan dihalau Paspampres untuk memberi ruang aman untuk presiden. Selesai liputan biasanya cuma sebatas menggerutu karena susahnya dapat gambar. Tapi bagi saya, liputan yang paling susah adalah wawancara dengan korban atau keluarganya. 1 Oktober 2022 subuh, saya dapat penugasan berangkat liputan ke Malang setelah terjadi tragedi Kanjuruhan, … Continue reading Maaf, Saya Menangis Liputan Duka Korban Kanjuruhan

Fatima dan Teh Jeruk Hangat

Sebentar-sebentar Fatima melongok ke air dalam panci buntut. Dia menunggu gelembung-gelembung uap panas muncul dari dalam air. Dia merasa gelembung-gelembung itu sangat lama tak segera muncul. Sesekali Fatima mengintip api kompor. Lalu bergegas masuk ke kamar ibunya dan menghampiri kakaknya sambil berbisik, “Apinya terlalu besar atau terlalu kecil, Kak?” “Sudah cukup segitu,” Jawab kakaknya Kaki kecilnya membawa Fatima kembali ke dapur. Menunggu air mendidih. Sementara … Continue reading Fatima dan Teh Jeruk Hangat